"The Black Parade" Album Emo paling ikonik.
The Black Parade
Ketika mendengar istilah “emo,” mungkin yang terbayang adalah gambaran yang sangat spesifik: rambut hitam dengan poni panjang yang menutupi satu atau kedua mata, pakaian serba hitam, dan eyeliner yang tebal. Tak ada band yang lebih identik dengan gaya ini maupun genre emo selain My Chemical Romance (MCR). Band ini dibentuk pada tahun 2001 sebagai respons Gerard Way terhadap tragedi 9/11. Dalam waktu singkat, mereka berhasil menarik perhatian berkat penampilan gelap dan gaya dramatis mereka. Album kedua mereka, Three Cheers for Sweet Revenge, mengangkat nama mereka di dunia rock dengan lagu-lagu populer seperti “I’m Not Okay (I Promise)” dan “Helena.”
Namun, pada tahun 2006, MCR merilis album paling ambisius mereka, The Black Parade. Album ini adalah sebuah rock opera yang mengisahkan tentang seorang pria muda bernama The Patient yang merenungi hidupnya saat ia menghadapi kematian akibat kanker. Album ini diproduseri oleh Rob Cavallo, yang juga memproduseri album-album Green Day, dan album ini terinspirasi dari The Wall karya Pink Floyd serta A Night at the Opera dari Queen. Ambisi besar MCR terbayar lunas karena album ini menjadi karya paling sukses sekaligus ikonik sepanjang karier mereka. Kini, setelah reuni pasca-pembubaran pada tahun 2013, MCR akhirnya memulai tur dunia yang sempat tertunda dan bahkan merilis lagu baru pertama mereka dalam hampir satu dekade. Maka, ini adalah momen yang tepat untuk kembali mengenang mahakarya mereka ini.
Album ini dimulai dengan lagu yang judulnya ironis, “The End.” Biasanya, album diawali dengan lagu yang energik dan catchy, atau mungkin lead single. Namun, “The End.” justru dibuka dengan suara monitor jantung sebelum berubah menjadi balada akustik yang terdengar seperti lagu dari era abad pertengahan. Pada lagu ini, Gerard Way memperkenalkan dirinya sebagai protagonis sekaligus narator utama, The Patient. Pembuka yang unik ini kemudian berkembang menjadi permainan penuh band sebelum tiba-tiba terhenti.
Transisi terbaik dalam musik rock terjadi setelahnya. Ketika “The End.” berhenti mendadak, suara monitor jantung yang berubah menjadi datar membuka lagu kedua, “Dead!”. Lagu ini memperkenalkan alur cerita ketika dokter memberi tahu The Patient bahwa hidupnya tinggal dua minggu lagi. Meski temanya cukup menyedihkan, “Dead!” dibawakan dengan tempo cepat dan energi tinggi. Gitar dari Frank Iero dan Ray Toro yang agresif ditambah solo gitar Toro yang memukau membuat lagu ini sangat bersemangat. Penutupnya, dengan “la la la” khas Gerard yang terdengar kekanak-kanakan, menciptakan perpaduan sempurna antara nada sinis dan humor.
Energi dan teatrikalitas ini berlanjut ke lagu-lagu berikutnya, hingga akhirnya tiba di lead single sekaligus lagu paling ikonis mereka, “Welcome to the Black Parade.” Lagu ini terinspirasi dari keyakinan Gerard bahwa kematian datang dalam bentuk kenangan paling indah seseorang. Bagi The Patient, kenangan itu adalah melihat marching band di masa kecil. Lagu ini merangkum segala hal yang membuat album ini luar biasa. Dengan perubahan dari balada piano menjadi pop-punk tanpa kehilangan dramanya, lagu ini mengusung tema utama album: semangat untuk terus bertahan. Drum Bob Bryar yang terinspirasi marching band memperkuat tema lagu ini, menjadikannya miniatur dari seluruh album.
Namun, meskipun The Black Parade unggul dalam hal performa, penulisan, dan gaya, album ini memiliki kelemahan dalam susunan lagu. Untuk album konsep seperti ini, urutan lagu menjadi sangat penting untuk mendukung cerita. Salah satu masalah utama ada pada lagu “House of Wolves.” Lagu ini bercerita tentang The Patient yang merenungi kemungkinan masuk neraka setelah kematian, dengan irama yang terinspirasi jazz. Sayangnya, lagu ini ditempatkan di antara “I Don’t Love You,” sebuah balada emosional, dan “Cancer,” sebuah lagu piano dengan lirik yang sangat lugas. Kedua lagu ini memiliki tone yang serupa dan lebih cocok jika diletakkan berurutan, tetapi “House of Wolves” justru mengganggu alurnya. Lagu ini lebih pas jika diposisikan di awal album bersama lagu-lagu penuh energi seperti “Dead!” atau “Welcome to the Black Parade.”
Hal serupa terjadi pada “Teenagers,” lagu ke-11 di album ini. Meski menjadi salah satu lagu paling populer mereka, tema liriknya tentang hubungan penuh ketegangan antara remaja dan otoritas dewasa tidak relevan dengan kisah The Patient. Gaya bluesy pada lagu ini juga tidak ditemukan di lagu lain dalam album. Seperti “House of Wolves,” lagu ini mengganggu alur karena ditempatkan di antara “Sleep” dan “Disenchanted” yang memiliki tone serupa. Meskipun “Teenagers” adalah lagu yang hebat, rasanya lagu ini lebih cocok menjadi B-side atau single terpisah.
Namun, pada tahun 2006, MCR merilis album paling ambisius mereka, The Black Parade. Album ini adalah sebuah rock opera yang mengisahkan tentang seorang pria muda bernama The Patient yang merenungi hidupnya saat ia menghadapi kematian akibat kanker. Album ini diproduseri oleh Rob Cavallo, yang juga memproduseri album-album Green Day, dan album ini terinspirasi dari The Wall karya Pink Floyd serta A Night at the Opera dari Queen. Ambisi besar MCR terbayar lunas karena album ini menjadi karya paling sukses sekaligus ikonik sepanjang karier mereka. Kini, setelah reuni pasca-pembubaran pada tahun 2013, MCR akhirnya memulai tur dunia yang sempat tertunda dan bahkan merilis lagu baru pertama mereka dalam hampir satu dekade. Maka, ini adalah momen yang tepat untuk kembali mengenang mahakarya mereka ini.
Album ini dimulai dengan lagu yang judulnya ironis, “The End.” Biasanya, album diawali dengan lagu yang energik dan catchy, atau mungkin lead single. Namun, “The End.” justru dibuka dengan suara monitor jantung sebelum berubah menjadi balada akustik yang terdengar seperti lagu dari era abad pertengahan. Pada lagu ini, Gerard Way memperkenalkan dirinya sebagai protagonis sekaligus narator utama, The Patient. Pembuka yang unik ini kemudian berkembang menjadi permainan penuh band sebelum tiba-tiba terhenti.
Transisi terbaik dalam musik rock terjadi setelahnya. Ketika “The End.” berhenti mendadak, suara monitor jantung yang berubah menjadi datar membuka lagu kedua, “Dead!”. Lagu ini memperkenalkan alur cerita ketika dokter memberi tahu The Patient bahwa hidupnya tinggal dua minggu lagi. Meski temanya cukup menyedihkan, “Dead!” dibawakan dengan tempo cepat dan energi tinggi. Gitar dari Frank Iero dan Ray Toro yang agresif ditambah solo gitar Toro yang memukau membuat lagu ini sangat bersemangat. Penutupnya, dengan “la la la” khas Gerard yang terdengar kekanak-kanakan, menciptakan perpaduan sempurna antara nada sinis dan humor.
Energi dan teatrikalitas ini berlanjut ke lagu-lagu berikutnya, hingga akhirnya tiba di lead single sekaligus lagu paling ikonis mereka, “Welcome to the Black Parade.” Lagu ini terinspirasi dari keyakinan Gerard bahwa kematian datang dalam bentuk kenangan paling indah seseorang. Bagi The Patient, kenangan itu adalah melihat marching band di masa kecil. Lagu ini merangkum segala hal yang membuat album ini luar biasa. Dengan perubahan dari balada piano menjadi pop-punk tanpa kehilangan dramanya, lagu ini mengusung tema utama album: semangat untuk terus bertahan. Drum Bob Bryar yang terinspirasi marching band memperkuat tema lagu ini, menjadikannya miniatur dari seluruh album.
Namun, meskipun The Black Parade unggul dalam hal performa, penulisan, dan gaya, album ini memiliki kelemahan dalam susunan lagu. Untuk album konsep seperti ini, urutan lagu menjadi sangat penting untuk mendukung cerita. Salah satu masalah utama ada pada lagu “House of Wolves.” Lagu ini bercerita tentang The Patient yang merenungi kemungkinan masuk neraka setelah kematian, dengan irama yang terinspirasi jazz. Sayangnya, lagu ini ditempatkan di antara “I Don’t Love You,” sebuah balada emosional, dan “Cancer,” sebuah lagu piano dengan lirik yang sangat lugas. Kedua lagu ini memiliki tone yang serupa dan lebih cocok jika diletakkan berurutan, tetapi “House of Wolves” justru mengganggu alurnya. Lagu ini lebih pas jika diposisikan di awal album bersama lagu-lagu penuh energi seperti “Dead!” atau “Welcome to the Black Parade.”
Hal serupa terjadi pada “Teenagers,” lagu ke-11 di album ini. Meski menjadi salah satu lagu paling populer mereka, tema liriknya tentang hubungan penuh ketegangan antara remaja dan otoritas dewasa tidak relevan dengan kisah The Patient. Gaya bluesy pada lagu ini juga tidak ditemukan di lagu lain dalam album. Seperti “House of Wolves,” lagu ini mengganggu alur karena ditempatkan di antara “Sleep” dan “Disenchanted” yang memiliki tone serupa. Meskipun “Teenagers” adalah lagu yang hebat, rasanya lagu ini lebih cocok menjadi B-side atau single terpisah.
Sebaliknya, lagu “Mama” di track 9, meskipun awalnya terasa tidak nyambung, justru menjadi bagian penting dari cerita. Lagu ini mengisahkan seorang tentara muda yang pasrah terhadap kematiannya di medan perang dan berusaha memperbaiki hubungan dengan ibunya. Meskipun cerita ini tampaknya tidak berhubungan langsung dengan The Patient, pesan utamanya sangat relevan dengan narasi album. Di lagu ini, The Patient menerima bahwa dirinya akan masuk neraka. Dengan instrumen yang menyerupai karnaval menyeramkan dan vokal Gerard yang dramatis, “Mama” menjadi salah satu momen paling teatrikal dan kuat di album ini.
Penutup album, “Famous Last Words,” menjadi akhir yang megah. Seperti “Welcome to the Black Parade,” lagu ini menyampaikan harapan di tengah album yang penuh nada sinis. Lirik “I am not afraid to keep on living” menjadi seruan semangat bagi para pendengar muda yang berjuang melawan tantangan mental. Lagu ini diikuti oleh hidden track “Blood,” sebuah lagu ceria bergaya old-school dengan lirik sinis tentang betapa melelahkannya hidup. Lagu ini memberikan sentuhan akhir yang membuat “Famous Last Words” terasa lebih tulus. Pesannya jelas: meski hidup sering kali sulit, tetaplah bertahan.
Meskipun My Chemical Romance hingga kini menolak label “emo,” The Black Parade tetap menjadi album emo terbaik sekaligus salah satu album rock terbesar di abad ke-21.
Source : https://harperradio.com/2022/05/17/classic-review-the-black-parade/

MCR 🔥
ReplyDelete