Scene vs Emo vs Goth. Apa yang membedakan?
Halo Sobat BRKNAMP! Kalau kamu suka musik dan fashion alternatif, pasti nggak asing lagi dengan istilah Scene, Emo, dan Goth. Ketiganya sering disebut bareng, bahkan kadang disalahartikan sebagai satu hal yang sama. Padahal, meskipun ada beberapa kemiripan, ketiganya punya identitas dan karakteristik yang cukup berbeda, baik dari segi sejarah, musik, dan fashion.
Nah, supaya tidak salah kaprah, yuk kita bahas satu per satu perbedaan antara Scene, Emo, dan Goth!
Scene
Scene muncul sekitar pertengahan hingga akhir 2000-an, berawal dari komunitas MySpace yang saat itu jadi tempat berkumpul anak muda alternatif. Scene banyak dipengaruhi oleh kultur emo dan hardcore, tapi dengan elemen lebih cerah, playful, dan flamboyan. Mereka suka musik elektronik dan tampil heboh di media sosial.
Genre musik yang populer di kalangan scene kids antara lain crunkcore, post-hardcore, dan electronicore. Band seperti Bring Me the Horizon, Paramore, dan Asking Alexandria.
Fashion dari scene ini yaitu rambut berwarna neon, poni tebal, baju dengan motif cerah seperti zebra atau polkadot, serta aksesoris mencolok. Mereka juga terkenal karena suka selfie dan eksis di media sosial dengan fashionnya.
Emo
Source: Pinterest
Emo pertama kali muncul di pertengahan 1980-an dari scene hardcore punk di Washington D.C., lewat band seperti Rites of Spring dan Embrace. Di akhir 90-an dan awal 2000-an, emo mulai berubah bentuk jadi lebih melodik dan emosional, lalu mencapai puncak popularitas pada pertengahan 2000-an dengan band-band seperti My Chemical Romance, Dan Fall Out Boy.
Musik dari emo mempunyai tema yaitu lirik yang emosional, patah hati, kecemasan, dan pencarian jati diri.
Fashion dari emo didominasi warna hitam, eyeliner tebal, rambut lurus menutupi mata, skinny jeans, t-shirt band, dan sepatu Converse/Vans.
Musik dari emo mempunyai tema yaitu lirik yang emosional, patah hati, kecemasan, dan pencarian jati diri.
Fashion dari emo didominasi warna hitam, eyeliner tebal, rambut lurus menutupi mata, skinny jeans, t-shirt band, dan sepatu Converse/Vans.
Goth
Source: Pinterest
Goth berasal dari akhir 1970-an dan awal 1980-an, berakar dari musik post-punk. Band seperti The cure dan Adam and the Ants yang menciptakan atmosfer gelap dan artistik yang menjadi cikal bakal budaya goth. Subculture ini terus berkembang dan menciptakan cabang seperti cybergoth, romantic goth, dan lainnya.
Musik dari goth terdiri dari genre lain yaitu Post-punk, gothic rock, darkwave, dan industrial. Musiknya punya nuansa atmosferik, melankolis, dan kadang mistis.
Fashion dari Goth ini yaitu warna hitam dominan, makeup dramatis, gaya terinspirasi era Victorian atau vampir. Boots tinggi, renda, dan aksesori perak sering jadi elemen wajib.
Musik dari goth terdiri dari genre lain yaitu Post-punk, gothic rock, darkwave, dan industrial. Musiknya punya nuansa atmosferik, melankolis, dan kadang mistis.
Fashion dari Goth ini yaitu warna hitam dominan, makeup dramatis, gaya terinspirasi era Victorian atau vampir. Boots tinggi, renda, dan aksesori perak sering jadi elemen wajib.
Penutup
Scene, Emo, dan Goth adalah tiga subkultur yang berkembang dari musik alternatif dan punya ciri khas masing-masing. Meskipun sering disalahartikan sebagai satu kelompok yang sama karena warna gelap dan ekspresi emosionalnya, ketiganya memiliki sejarah, gaya, dan semangat yang berbeda.




Wah, artikelnya keren banget!
ReplyDeletePenjelasannya jelas dan mudah dipahami, apalagi buat orang yang masih bingung bedain Scene, Emo, dan Goth. Suka banget sama bagian yang ngebahas asal-usul dan perbedaan fashionnya jadi makin ngerti kalau tiap subkultur punya ciri khas dan sejarah sendiri.
Thanks udah nulis ini, cocok banget buat bahan edukasi ringan tapi berbobot!
kira kira kalo di adu yang menang siapa yakk???
ReplyDeleteemo dan goth udah sering denger, tapi scene baru tau, bermanfaat nih
ReplyDelete